Widget edited by super-bee

Selasa, 07 Oktober 2014

KEMEGAHAN DAN KEAJAIBAN ARSITEKTUR BOROBUDUR


Candi Borobudur dibangun dengan bentuk piramida berundak 10 lantai sesuai dengan konsep 10 tataran penyempurnaan kebajikan untuk merealisasi Kebuddhaan. Enam lantai candi berbentuk teras bujursangkar; empat lantai berbentuk teras lingkar. Candi ini memiliki 504 arca Buddha yang terletak dalam 432 relung di teras bujursangkar dan 72 stupa berlubang di teras lingkar.
Candi Borobudur berbentuk seperti bujursangkar dengan ukuran 123 x 123 meter, dan didirikan dengan menggunakan bukit alami sebagai pondasinya. Tinggi bangunan candi tanpa mahkota stupa utama adalah 34,5 meter. Jika dipasang mahkota stupa utamanya, tingginya menjadi 42 meter.
Pada bagian teras bujursangkar terdapat 2.672 pahatan relief yang terdiri dari 1.212 relief dekoratif, dan 1.460 relief kisah. Relief kisah ini meliputi 160 relief tersembunyi Mahakarmawibhangga yang ada di balik kaki candi. Kaki candi yang lebar dibuat dari 13.000 meter kubik batu untuk mengokohkan struktur candi agar tidak longsor.
Pada dinding luar, serta dinding dalam galeri tingkat pertama dan kedua terpahat 720 relief kisah Jataka dan Awadana, yang mengisahkan mengenai kelahiran lampau Buddha.
Pada dinding dalam galeri tingkat pertama juga terpahat 120 relief kisah Lalitawistara, yang mengisahkan riwayat hidup Buddha Gautama.
Pada galeri kedua, ketiga, dan keempat terpahat 460 relief kisah Gandawyuha, yang mengisahkan pencarian pencerahan oleh pemuda Sudhana.
Di bagian teras bujursangkar ini, baik dinding luar dan galeri dipahat dengan relief dan dihias dengan stupa kecil dan relung berisi arca Buddha duduk bersila setinggi 1,5 meter.
Terdapat 432 arca Buddha dalam relung di teras ini. Arca Buddha dalam relung dalam posisi duduk bersila, menghadap ke luar. Sikap tangan atau mudra arca di tiap sisi candi berbeda, dengan rincian:
  • Arca Buddha menghadap ke Timur: mudra Bhumisparsa, yang berarti memanggil bumi sebagai saksi.
  • Arca Buddha menghadap ke Selatan: mudra Wara, yang berarti kedermawanan.
  • Arca Buddha menghadap ke Barat: mudra Dhyana, yang berarti pengheningan batin.
  • Arca Buddha menghadap ke Utara: mudra Abhaya, yang berarti tidak gentar.
  • Arca Buddha di pagar teras lingkar: mudra Witarka yang berarti pengerahan akal budi.
  • Arca Buddha dalam stupa: mudra Dharmacakra yang berarti memutar Roda Dharma.
Di setiap tangga menuju tingkat lebih lanjut, terdapat gerbang berukir Dewa Kala atau dewa penguasa waktu. Bagian puncak candi berupa teras lingkar tanpa tembok sehingga menimbulkan kesan terbuka dan tanpa batas.
Teras lingkar ini terdiri dari 4 lantai berupa lantai dasar lalu 3 lantai berisi rangkaian stupa melingkar dan 1 stupa utama.
Rangkaian stupa lantai pertama terdiri dari 32 stupa, melambangkan jumlah 32 markah agung Sakyamuni.
Rangkaian stupa lantai kedua terdiri dari 24 stupa, yakni penanggalan almanak India yang meliputi siklus 12 bulan purnama dan 12 bulan baru.
Stupa lantai pertama dan kedua memiliki lubang berbentuk wajik.
Rangkaian stupa lantai ketiga terdiri dari 16 stupa, dengan lubang berbentuk kotak, berpuncak pada stupa utama.
56 stupa dengan masing-masing 64 lubang wajik memiliki makna Buddha di dalamnya memancarkan 364 cahaya ke sepuluh penjuru mata angin, merujuk ke almanak matahari.
16 stupa dengan 44 lubang kotak memancarkan 72 nirmita ke sepuluh penjuru, merujuk ke satuan penanggalan India kuno.
Dalam tiap stupa berlubang terdapat arca Buddha dengan mudra Dharmacakra.
Candi Borobudur dibangun dari 60.000 meter kubik batu andesit atau lebih dari satu juta blok batu. Tiap blok batu penyusun Borobudur memiliki bobot sampai 100 kg. Pembangunan Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem batu pengunci, yakni balok batu yang bisa mengunci posisi satu sama lain.
Pahatan reliefnya baru dibuat langsung di lokasi setelah bangunan dan dinding candi rampung. Candi Borobudur dilengkapi sistem drainase yang cukup baik untuk mengatasi curah hujan dan genangan air. Terdapat lebih dari 100 pancuran air di sudut-sudut candi, masing-masing dengan rancangan pancuran berbentuk kepala raksasa kala atau makara.
Tangga terletak pada bagian tengah keempat sisi mata angin yang membawa pengunjung menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang lengkung berukiran motif kala, dengan sepasang singa menjaga di tiap gerbangnya.

Makna Arsitektur Borobudur Candi Borobudur dibangun dengan tujuan untuk menginspirasi kebajikan bagi segenap umat manusia. Pada zaman dahulu, para peziarah lintas negara dan agama telah mengunjungi monumen ini, mempelajari nilai kebajikan, dan terinspirasi olehnya.
Candi Borobudur tidak memiliki ruang pemujaan seperti candi-candi lain, melainkan lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong ini dibatasi dinding yang menjadikannya seperti labirin berundak. Di lorong inilah para peziarah bisa mempelajari inspirasi kehidupan lampau Buddha, kisah hidup Buddha, serta teladan pemuda Sudhana dalam mencari pencerahan, sehingga mampu mencapai sukacita pembebasan yang melegakan, tanpa batas, dan tanpa penghalang seperti yang peziarah alami saat mereka mendaki hingga ke puncak teras lingkar candi. Pembebasan dari lingkup kelahiran ulang dan duka yang tiada akhir membutuhkan disiplin teguh, pembelajaran intensif, dan banyak kesulitan seperti yang dicirikan dari pengalaman menyusuri lorong galeri demi galeri.
Pada zaman dahulu kala, ritual sering diadakan oleh para peziarah maupun para biarawan dengan mengitari Candi Borobudur, sembari menjelaskan makna kisah relief kepada para siswa dan cantrik mereka agar bisa mewariskan kisah kebajikan ini dari generasi ke generasi. Perpaduan penyampaian ajaran melalui kisah, melihat langsung panel relief yang dikerjakan dengan sangat halus, serta aksi melakukan doa, sujud, dan penghormatan dengan pradaksina (memutari obyek puja) menimbulkan keyakinan dan semangat dalam batin peziarah untuk terus berupaya mengembangkan kebajikan mereka. Meski disertai kesulitan dan duka, proses perkembangan batin ini terus ditemani kisah-kisah keteladanan Buddha dan Bodhisattwa sehingga mampu menjadi inspirasi terus-menerus dalam perjuangan menjadi manusia dengan budi sempurna.

Gunung Pada pandangan pertama, Borobudur tampak seperti kumpulan batu abu-abu, pendek, dengan banyak stupa. Siluetnya menyerupai perbukitan di sekelilingnya. Siluet ini menyiratkan suatu gunung.
Mahkota stupa puncak yang tinggi juga makin menegaskan lambang Borobudur sebagai gunung. Simbol gunung memiliki makna religius penting bagi umat Buddha di Jawa. Tradisi Jawa membangun biara berundak di tempat tinggi sejak zaman prasejarah berlanjut hingga kini. Lalu, Borobudur didirikan para raja dari Wangsa Syailendra, yang berarti “Penguasa Gunung”. Dalam satu prasasti, Borobudur disebut sebagai Sumeru Buddha Sempurna. Gunung Sumeru adalah gunung mitologi yang menjadi pusat semesta, tempat raja dewa bertakhta.

Stupa Borobudur yang puncaknya terdiri dari 72 stupa dan 1 stupa utama, dengan teras bujursangkar di bawahnya dihiasi ratusan stupa lainnya adalah sebuah stupa raksasa. Dari jauh, Borobudur bisa dilihat sebagai satu unit stupa tunggal gigantik.
Stupa adalah bangunan Buddhis yang digunakan sebagai tempat penyimpanan abu atau relik para suciwan. Stupa juga bisa dibangun untuk memperingati suatu peristiwa religius atau untuk memperoleh jasa kebajikan. Ruang kosong dalam stupa utama mungkin dahulunya menyimpan relik suci Buddha atau para siswa-Nya.

Mandala Bentuk Borobudur jika dilihat dari atas membentuk mandala. Mandala adalah peta yang menggambarkan tatanan semesta maupun sifat batin. Bentuk mandala yang mendasari arsitektur Borobudur adalah Mandala Dharmadhatu dan Wajradhatu. Teras Borobudur disusun sesuai dengan kaidah matematis Mandala Wajradhatu.

Keajaiban Borobudur Borobudur merupakan paku bumi Pulau Jawa dari posisinya yang berada di Gunung Tidar.
Borobudur dibangun dengan satuan tala (1 tala = 22,9 cm).
Jika diukur dengan satuan tala, banyak fakta ajaib muncul dari dimensi Borobudur, misalnya fakta bahwa Borobudur adalah monumen yang menunjukkan lokasinya sendiri di muka bumi.
Panjang sumbu utara dan selatan candi dibagi dengan diameter teras stupa sama dengan 7,61. Angka ini serupa dengan letak Borobudur di 7,608 derajat Lintang Selatan.
Tinggi Candi Borobudur menurut rasio 4:6:9 adalah 41,81 meter atau 182.576 tala. Angka ini adalah setengah jumlah hari dalam 1 tahun penanggalan matahari (362,25 hari).
Jika diukur, kedua sumbu diagonal di teras lingkar kedua, diperoleh hasil 182,53 tala dan 182,79 tala yang persis dengan jumlah hari dalam 1 tahun, yakni 365,32 hari. Demikianlah Borobudur adalah monumen yang menyimbolkan garis waktu.

Referensi : www.borobudurindonesia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar